• All
  • Berita
  • Kegiatan
  • Agenda
  • Informasi
  • Serba-Serbi
  • Olah Raga
  • Budaya Pariwisata
gravatar

Menjelang PILKADA Mojokerto 2010

rss feed Stumble Upon Toolbar

ADA satu celetukan menarik yang dilontarkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menghadiri malam anugerah Radar Mojokerto Award di Gedung PSBR Jombang. Pria yang akrab dipanggil Gus Ipul itu menyentil pasangan Bupati-Wabup Mojokerto Suwandi-Wahyudi Iswanto yang tampak ''mesra'' di mana-mana. Bahkan Gus Ipul dengan guyonan yang khas menyuport pasangan ini pada Pilkada Mojokerto 2010 mendatang.

Ibarat
early warning, peringatan dini, sudah waktunya menatap Pilkada yang
dijadwalkan tahun depan. Apakah memang sudah waktunya? Tampaknya sudah. Jika
dihitung sungguh-sungguh, Pilkada 2010 genap setahun lagi. Kalau merujuk tahun
2005 lalu, saat pasangan Achmady-Suwandi menang, digelar pada bulan Juni, maka
jika penyelenggaranya sehat wal afiat tanpa halangan administrasi atau tetek-bengek lainnya, Pilkada 2010 boleh jadi digelar bulan Juni.

Tentu
ini sudah dekat. Bagi politisi, incumbent atau mereka yang berminta merebut
kursi empuk Bupati-Wabup Mojokerto memang waktu setahun teramat singkat. Ibaratnya
sudah masuk tahap pemanasan. Apalagi agenda-agenda penting hampir sudah rampung
terlewati, khususnya Pemilu Legislatif 2009. Pemilu yang sebenarnya juga
memiliki mata rantai dengan Pilkada 2010, karena bertautan erat dengan
perubahan peta politik di Kabupaten Mojokerto.

Dan
sejatinya aroma Pilkada 2010 di Kabupaten Mojokerto sudah terasa sejak satu
atau dua lalu. Dalam setiap tarikan napas, pada kesempatan-kesempatan tertentu,
di warung-warung, ada rasan-rasan tentang Pilkada 2010. Ini tak
dipungkiri.

Repetisi
rasan-rasan itu berawal majunya Achmady merebut ''Piala Gubernur''
pertengahan 2008 lalu, kemudian tentang Suwandi yang asalnya wakil bupati
''ketiban sampur'' meneruskan tongkat pimpinan. Yang kemudian disusul
''panasnya'' aroma pemilihan wakil bupati antara kubu PDIP dengan Wahyudi
Iswanto sebagai jagonya melawan Partai Golkar dengan Any Makhnunah yang
disebut-sebut sebagai representasi penerus Achmady (Keluarga Gondang), de el el,
de el el.

Lalu
yang terakhir muncul ''kekuatan baru'' yang tiba-tiba seperti mengajak
masyarakat Kabupaten Mojokerto menatap tahun 2010 khususnya fokus Pilkada.
Yakni Mustofa-Center yang merupakan representasi dari sosok muda Mustofa Kemal
Pasha. Sosok yang pada 2005 lalu sebenarnya sudah memulai gerilya politik
dengan ''berinvestasi'' dalam beberapa pesan saat 2005 itu: bahwa Mustofa Kemal
akan menjadi salah satu kekuatan yang akan meramaikan bursa Pilkada 2010.

Dan
itu dibuktikan dengan munculnya beberapa manuver persentuhan dengan masyarakat
bawah. Meskipun belum secara terang-terangan menyatakan ikut bursa Pilkada 2010
namun insinuasi yang dibangun memperlihatkan itu.

Kabarnya
sudah 2.000 titik di 304 desa yang disentuh Mustofa-Center, lembaga penyuport
Mustofa Kemal, dengan berbagai ragam tawaran di luar pemerintah. Mulai dari
infrastruktur, hiburan dan sejumlah bentuk pembangunan lainnya. Oposisi
membangun, agak unik memang.

Terlepas
dari polarisasi politik dan manuver dari sejumlah politisi yang muncul
belakangan ini, repetisi peristiwa lengsernya Achmady secara tak langsung
memetakan warna politik di Kabupaten Mojokerto 2010 mendatang. Repetisi
peristiwa itu seolah memetakan bahwa adu taktik sudah dimulai baik oleh incumbent dan lawan-lawan politiknya.

Bisa
dikatakan saat ini, pasangan incumbent Suwandi-Wahyudi Iswanto yang chemistry-nya
sudah terbentuk sejak tahun 2005 bakal menghadapi setidaknya dua kekuatan mulai
sekarang. Yakni munculnya M-Center dan adrenalin Partai Golkar dan Any
Makhnunah yang kemungkinan besar akan berupaya merebut ''sesuatu yang hilang''
pada Pilwabup 2008 lalu.

Atau
kekuatan lain yang merupakan representasi dari tokoh-tokoh Kabupaten Mojokerto
seperti Gus Dim (KH Dimyati Rosyid) yang beberapa kesempatan sudah menitipkan
''pesan'' kesiapan maju pilkada. Atau malah kekuatan tak terduga dari Achmady
lagi.
Bisa jadi...

Namun
terlepas dari munculnya bayangan-bayangan menuju Pilkada 2010, early warning yang disampaikan Gus Ipul tampaknya patut didalami lagi. Bahkan pelajaran
politik harus diawali dengan hati yang damai, agar rakyat dan masyarakat ikut
damai dalam memaknai politik sekelas Pilkada. Karena dengan aneka karut-marut
Pemilu Legislatif yang membuat rakyat dan politisi kehilangan fatsoen berpolitik menjadi tugas para calon bupati dan wakil bupati Mojokerto 2010
untuk mengembalikan makna demokrasi sesungguhnya.

Meskipun
masih setahun, namun road to 2010 sudah bisa dimulai, asalkan
masing-masing calon tak kehilangan jati dirinya, tak kehilangan tugasnya
masing-masing. Yang membangun ya membangun, yang memimpin ya memimpin, yang
menunggu ya menunggu. Karena...''there are not permanent enemies, not
permanent friends but only permanent interests...''


Oleh : Yanuar Yachya by Radar Mojokerto


blog comments powered by Disqus