gravatar

Kampung Madura di Mojokerto

rss feed Stumble Upon Toolbar

Maulid Nabi, Lebih Heboh Dibanding Idul Fitri

Ada beberapa tradisi unik khas Madura yang juga menjadi tradisi di kampung Madura di Mojokerto. Para penghuni Madura merayakan tradisi-tradisi ini ibarat berada di Pulau Garam. Apa saja?

IMRON ARLADO, Mojokerto

---

ARSITEKTUR rumah dan kebiasaan masyarakat Dusun Greol, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Mojokerto ini tak jauh beda dengan khas Jawa. Modernisasi jauh lebih mengena jika dibanding dengan Dusun Sumberwuluh, Desa Lakardowo, Jetis Mojokerto.

Namun, di kampung ini, masih banyak yang memegang teguh kepercayaan orang Madura. Diantaranya adalah wanita yang masakan saat Maulid Nabi, harus dalam keadaan suci. Tidak berhadas. ''Di kampung ini masih banyak yang memegang teguh ajaran itu,'' tutur Sufaat, 48, tokoh masyarakat setempat.

Selain harus suci, saat masak pun, si penanak nasi tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun. Yakni puasa bicara. ''Kalau sampai bicara, tidak akan sempurna ibadahnya,'' tukasnya.

Selain itu, budaya khas Madura yang masih kental adalah arak-arakan pengantin. Seorang pengantin yang menikah di kampung itu, harus diarak keliling kampung disertai dengan iringan hadrah.

Bagaimana asal muasal kampung Madura ini? menurut Sufaat, untuk mengetahui napak tilas nenek moyangnya, ia rela menghabiskan waktunya hingga 15 tahun. Hanya untuk mengetahui siapakah nenek moyangnya yang telah menaburkan benih Madura di tanah Mojokerto. ''Ini merupakan petuah kiai saya,'' tukas bapak empat anak ini.

Ia mengatakan bahwa sejarah nenek buyutnya sebenarnya sudah bisa diketahui sejak beberapa tahun yang lalu. Namun ia belum bisa memastikan jika hasil penemuannya itu valid seratus persen.

Karena, banyak tokoh masyarakat Madura yang telah ia datangi, enggan berkomentar dan memberikan keterangan dengan baik. ''Mencari silsilah, banyak yang menuduh mencari harta warisan,'' keluhnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Baitur Rochim ini memastikan, jika dirinya adalah keturunan orang Madura yang berasal dari Kabupaten Bangkalan dan Sumenep. ''Bujuk Majih asleh Bangkalan, Bujuk Nai asleh Sampang (Eyang Majih berasal dari Bangkalan. Sedangkan Eyang Nai berasal dari Sampang),'' katanya dengan menggunakan bahasa khas Maduranya.

Dua orang inilah yang kali pertama transmigrasi dari pulau garam ke tanah Jawa, Mojokerto dan berketurunan di Dusun Greol, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis Mojokerto.

Dewasa ini, bahasa Madura di kawasan ini sudah mulai tergerus modernisasi. Muda-mudinya sudah tak banyak lagi yang menggunakan bahasa Madura. Lebih parah lagi, anak-anak kecil, tak banyak yang paham bahasa tersebut. ''Guleh parak ateh sekaleh. Ambing bahasa Madura. Sek parak Jawa di generasi gule (saya sangat menyayangkan bahasa Madura sudah mulai hilang di generasi ini,'' ujarnya.

Sumber : Jawa Pos


blog comments powered by Disqus