• All
  • Berita
  • Kegiatan
  • Agenda
  • Informasi
  • Serba-Serbi
  • Olah Raga
  • Budaya Pariwisata
gravatar

Ucok Baba Mojokerto

rss feed Stumble Upon Toolbar

Lahir dengan kondisi fisik tak normal tak membuat Tamin, anggota SPM (Serikat Pengamen Mojokerto) pesimistis. Setiap aksi yang digelar komunitas pengamen atau aktivis buruh, pemilik tinggi 98 sentimeter ini rela menjadi ajang coretan sesama peserta, hingga pelaku teaterikal yang teraniaya.

MOCH. CHARIRIS, Mojokerto

---

AKSI demontrasi yang digelar aktivisis buruh tergabung dalam FNPBI dan kalangan pengamen di Kota Mojokerto beberapa momen belakangan ini berbeda dibanding sebelumnya. Jika biasanya aksi mereka hanya melibatkan massa, pengeras suara dan berbagai macam atribut termasuk poster dan spanduk, namun kini mereka biasa menyuguhkan tampilan teaterikal yang menyedot perhatian.

Teaterikal itu sengaja dilakukan untuk menggambarkan kondisi atas reaksi kebijakan pemerintah atau petugas penegak hukum yang dinilai tidak memihak. Seperti saat menggelar turun jalan yang digelar Serikat Pengamen Mojokerto (SPM) di depan gedung pemkot kemarin. Karena aspirasi yang diperjuangkan menyangkut penggarukan pengamen, mereka menunjukkan tontonan ketidakberdayaan pengamen saat digaruk petugas. Baik oleh satpol PP maupun petugas Polresta.

Dengan menggunakan tali rafia, dua petugas yang diperankan anggota SPM mengikat leher tiga pemuda kerdil yang tubuhnya penuh coretan penolakan. Tiga pemuda kerdil itu masing-masing Tamin alias Unyil A, Wandi alias Unyil B dan Kariono alias Penceng.

Meski berperan laiknya seorang budak yang dianiaya sang majikan, ketiganya tak keberatan. Bahkan mengaku senang lantaran dilibatkan aksi yang digelar teman pengamen dan kalangan aktivis buruh. ''Tidak ada rasa takut atau keberataan. Justru saat saya memerankan aksi teaterikal perasaan saya saat itu cukup mendalam. Bagaimana menjadi seorang seniman pengemen saat digaruk petugas,'' tutur Tamin ditemui seusai mengikuti aksi di Sekretariat Dewan Pimpinan Kota (DPK) SPI Mojokerto Suratan Gang IV Nomor 24 Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon, kemarin.

Hari-harinya, Tamin yang dilahirkan di Dusun Kemuning, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan Jombang pada 21 Oktober 1980 itu memang berada di Sekretariat DPK SPI bersama puluhan pengamen yang lain.

Bagi Tamin, menjadi pelaku teaterikal dalam setiap aksi merupakan kebanggaan sendiri. Sebab dikaruniai postur tubuh yang tidak sampai 1 meter, tentu membuatnya kesulitan jika menjadi peserta aksi pada umumnya. Terlebih menjadi orator atau berada di barisan depan. ''Bagi saya teater itu seni. Jadi apapun yang diminta teman-teman saya siap. Termasuk memperagakan sebagai budak sedang memakan daging yang sudah dibuang majikan di tanah,'' terang pria berusia 29 tahun ini sembari memainkan gitar.

Tamin sendiri resmi bergabung bersama puluhan anggota SPM dan SPI Kota Mojokerto sejak tahun 2006. Kala itu anak ketiga dari lima bersaudara pasangan (alm) Taji dan Semi sekadar menjadi pengamen yang mengandalkan musik kebasa atau ecek-ecek (tamborin dari tutup botol).

''Trayeknya jalan saya dari Terminal Kertajaya Mojokerto turun di Pasar Krian. Begitu seterusnya,'' ujarnya. Tidak lama kemudian, bersama komunitas pengamen, dia memutuskan untuk bergabung bersama SPM. Termasuk aktif mengikuti berbagai macam kegiatan oraganisasi. Semisal pendidikan dasar organisasi, diskusi, kongres SPI di Jogjakarta dan beberapa kali ikut serta demonstrasi di Jakarta dan Surabaya.

''Makanya kalau kami dibilang preman itu salah. Semua ada aturan dalam organisasi,'' katanya. ''Tapi kalau ditanya kenapa kami mengamen ya itu karena tidak ada pekerjaan lain. Yang penting tidak meminta atau mencuri,'' bebernya.

Sebenarnya, menjajaki dunia musik jalanan dengan naik-turun bus bukan pilihan hidup Tamin. Akan tetapi keterbatasan pendidikan dan fisik lantas membuat dia merasa kesulitan mencari pekerjaan yang layak. ''Sebelum mengamen saya pernah jadi kenek line G jurusan Jombang-Keboan, Kabuh sejak tahun 1997 hingga 2005,'' kenangnya.

Akan tetapi pendapatan dari angkutan itu dirasakan belum cukup memenuhi hidupnya. Terlebih menyisakan hasil untuk orang tua. Dari situ, Tamin memutuskan banting setir dan memilih bekerja sebagai buruh pabrikan berbekal ijazah SDN. Akan tetapi, dari beberapa pabrik yang dia tuju tidak satupun menerimanya menjadi karyawan.

''Kalau waktu itu diterima, saya berencana menikah dengan perempuan normal. Tapi situasinya lain, tak bisa menjadi buruh, saya dan Yuningsih memutuskan jadi saudara saja,'' ungkap sembari tertawa kecil. Walau begitu, dari beberapa pengalaman pahitnya, dia masih menaruh harapan tinggi untuk menjalin hidup seperti manusia pada umumnya.

Bahkan, dengan mengikuti SPI dan SPM, Tamin menanam cita-cita bisa mengikuti jejak Ucok Baba. Meski kerdil, namun komedian mungil itu bisa mencukupi dan membina keluarga. ''Semoga dengan saya bergabung di organisasi ini (SPI dan SPM, Red) bisa mengenal banyak orang. Sebab, perjalanan Ucok Baba dulu merintis dari bawah. Termasuk bergaul dengan para pengamen jalanan," terangnya.

Sumber : Jawa Pos


blog comments powered by Disqus